B-DETIK/ - Seperti ketika krisis moneter yang
berlanjut kepada krisis ekonomi 1998 lalu, bisnis rakyat atau UKM lah
yang mampu bertahan dari badai. Bisnis rakyat yang tidak mengandalkan
materialnya dari barang-barang import, terbukti mampu tetap hidup. Maka
kini krisis kembali terjadi. Beda dengan dulu, ketika tidak semua negara
mengalaminya, tapi kini krisis perekonomian mendunia. Tapi diyakini,
bisnis rakyat tetap mampu survive.
Berawal dari keinginan memanfaatkan gentong yang terbuang sia-sia, dua pemuda warga Kudus, Jawa Tengah, dapat menciptakan sebuah kerajinan miniatur taman. Mereka adalah Erwin dan Ubaidilah. Saat ditemui baru-baru ini, keduanya mengaku membuat kerajinan tangan seperti ini tidaklah rumit.
Awal pembuatan miniatur taman dimulai dengan melubangi salah satu sisi gentong. Selanjutnya, susunlah batu untuk membentuk tebing atau pun bukit sebagai dasar ornamen taman. Setelah penataan dasar taman selesai, tahap selanjutnya menambahkan hiasan seperti pohon, air mancur, dan lampu hias.
Usaha yang dirintis Erwin dan Ubaidilah tidak sia-sia. Setiap bulannya, tidak kurang dari 30 miniatur taman gentong laku dijual. Dengan modal Rp 150 ribu untuk gentong ukuran sedang dan Rp 450 ribu untuk gentong ukuran besar, Erwin mampu meraup keuntungan tiga kali lipat.
Berawal dari keinginan memanfaatkan gentong yang terbuang sia-sia, dua pemuda warga Kudus, Jawa Tengah, dapat menciptakan sebuah kerajinan miniatur taman. Mereka adalah Erwin dan Ubaidilah. Saat ditemui baru-baru ini, keduanya mengaku membuat kerajinan tangan seperti ini tidaklah rumit.
Awal pembuatan miniatur taman dimulai dengan melubangi salah satu sisi gentong. Selanjutnya, susunlah batu untuk membentuk tebing atau pun bukit sebagai dasar ornamen taman. Setelah penataan dasar taman selesai, tahap selanjutnya menambahkan hiasan seperti pohon, air mancur, dan lampu hias.
Usaha yang dirintis Erwin dan Ubaidilah tidak sia-sia. Setiap bulannya, tidak kurang dari 30 miniatur taman gentong laku dijual. Dengan modal Rp 150 ribu untuk gentong ukuran sedang dan Rp 450 ribu untuk gentong ukuran besar, Erwin mampu meraup keuntungan tiga kali lipat.
Sejak dirintis tiga tahun silam, usaha miniatur taman gentong kini
berbuah manis. Selain dipasarkan ke sejumlah daerah di Tanah Air seperti
Jawa Barat, Jakarta, dan Sumatra, miniatur taman gentong ini diminati
pula pembeli dari Austria, Australia dan Amerika Serikat. Anda tertarik
juga?
Bagi Anda yang akan berwisata ke Depok, ada satu pilihan oleh-oleh yang dapat dibawa dan merupakan asli buatan tangan sepasang suami istri di Komplek Samudra, Jalan Sersan Aning, A5 I RT01/06, J Depok, Pancoranmas, Depok.
Rita Apriyanti dan Rery Enrico membuat kerajinan khas Depok, yaitu curug gentong yang berarti miniatur air terjun di dalam gentong.
Curug gentong (CG) yang dibuat pasangan tersebut memiliki keindahan tersendiri. Dengan sentuhan seni tinggi air terjun dipadu dengan nuansa alam pedesaan serta rumah tradisional Sunda itu seolah-olah terlihat nyata.
Keindahan curug dengan nuansa alam pedesaan itu juga ditampilkan ke dalam guci yang dilubangi dan juga disajikan di pot kembang terbuka, baik itu yang berukuran besar maupun kecil. Untuk harga buah tangan tersebut antara Rp200,000 hingga Rp800,000. Sedangkan untuk pesanan yang berukuran besar harganya bisa mencapai Rp1,8 juta.
Hebatnya, hasil karya seni itu pun menarik perhatian warga Singapura, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Demi mendapatkan karya seni khas warga Depok itu, mereka rela jauh-jauh datang ke Depok.
"Warga negara itu sendiri yang datang ke sini untuk membeli curug gentong. Kami belum memasarkan secara banyak ke luar negeri," kata putri ketiga Rita, Aditya Istiarahma di Depok.
Sementara itu, Rita mengatakan, ia belum berani memasarkan curug gentong secara besar ke dunia internasional karena membutuhkan persiapan yang matang baik itu sumber daya manusia dan permodalannya.
Namun sejauh ini, untuk pemasaran secara nasional sudah mencapai seluruh provinsi di Indonesia. Pengiriman curug gentong itu melalui ekspedisi yang dipercaya Rita dan ongkos pengiriman ditanggung pembeli. Produksi curug gentong setiap harinya, lanjut Rita, dapat mencapai tiga sampai empat gentong. "Namun untuk selesai sampai penyelesaian akhir membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat hari. Setiap hari produksi gentong," katanya.
Menurut Rita, material yang digunakannya merupakan bahan daur ulang. Untuk gentong dibelinya di kawasan Depok. Meski, Curug gentong banyak diproduksi oleh perajin lain di wilayah Jabodetabek, namun Rita mengklaim, dibanding dengan curug gentong lain, buatannya memiliki kualitas jauh lebih baik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok pun memfasilitasi Rita untuk ikut serta dalam berbagai ajang pameran, termasuk Batam Expo pada 2007. Terakhir kali tampil dalam Jakarta Fair 2008.
Karena itu, bagi Anda yang singgah di Depok, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh asli Depok, yaitu curug gentong.
Bagi Anda yang akan berwisata ke Depok, ada satu pilihan oleh-oleh yang dapat dibawa dan merupakan asli buatan tangan sepasang suami istri di Komplek Samudra, Jalan Sersan Aning, A5 I RT01/06, J Depok, Pancoranmas, Depok.
Rita Apriyanti dan Rery Enrico membuat kerajinan khas Depok, yaitu curug gentong yang berarti miniatur air terjun di dalam gentong.
Curug gentong (CG) yang dibuat pasangan tersebut memiliki keindahan tersendiri. Dengan sentuhan seni tinggi air terjun dipadu dengan nuansa alam pedesaan serta rumah tradisional Sunda itu seolah-olah terlihat nyata.
Keindahan curug dengan nuansa alam pedesaan itu juga ditampilkan ke dalam guci yang dilubangi dan juga disajikan di pot kembang terbuka, baik itu yang berukuran besar maupun kecil. Untuk harga buah tangan tersebut antara Rp200,000 hingga Rp800,000. Sedangkan untuk pesanan yang berukuran besar harganya bisa mencapai Rp1,8 juta.
Hebatnya, hasil karya seni itu pun menarik perhatian warga Singapura, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Demi mendapatkan karya seni khas warga Depok itu, mereka rela jauh-jauh datang ke Depok.
"Warga negara itu sendiri yang datang ke sini untuk membeli curug gentong. Kami belum memasarkan secara banyak ke luar negeri," kata putri ketiga Rita, Aditya Istiarahma di Depok.
Sementara itu, Rita mengatakan, ia belum berani memasarkan curug gentong secara besar ke dunia internasional karena membutuhkan persiapan yang matang baik itu sumber daya manusia dan permodalannya.
Namun sejauh ini, untuk pemasaran secara nasional sudah mencapai seluruh provinsi di Indonesia. Pengiriman curug gentong itu melalui ekspedisi yang dipercaya Rita dan ongkos pengiriman ditanggung pembeli. Produksi curug gentong setiap harinya, lanjut Rita, dapat mencapai tiga sampai empat gentong. "Namun untuk selesai sampai penyelesaian akhir membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat hari. Setiap hari produksi gentong," katanya.
Menurut Rita, material yang digunakannya merupakan bahan daur ulang. Untuk gentong dibelinya di kawasan Depok. Meski, Curug gentong banyak diproduksi oleh perajin lain di wilayah Jabodetabek, namun Rita mengklaim, dibanding dengan curug gentong lain, buatannya memiliki kualitas jauh lebih baik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok pun memfasilitasi Rita untuk ikut serta dalam berbagai ajang pameran, termasuk Batam Expo pada 2007. Terakhir kali tampil dalam Jakarta Fair 2008.
Karena itu, bagi Anda yang singgah di Depok, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh asli Depok, yaitu curug gentong.
Begitu juga dengan Rico, bisnis yang ditekuninya memproduksi
kerajinan air terjun curug. Modalnya tak besar, materialnya pun asli
dalam negeri, dan mudah didapat. Tapi hasilnya, terbilang cukup lumayan.
Karena sekalipun daya beli masyarakat jauh menurun, tetap saja ada
peluang untuk memasarkan produk-produknya. Apalagi harga yang ditawarkan
relatif terjangkau. Yang positifnya lagi, produk Rico mampu memberi
ketenangan bagi mereka yang stress. Maklum, siapa sih yang tidak tenang
dan nyaman, mendengar suara gemericik air, memandang alam 'buatan'...
Bisnis Rico ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat yang ingin
mencoba berbisnis namun dengan modal terbatas. Karena hanya sedikit
'pemain' di bidang ini. Apalagi modalnya pun tidak besar. Dan yang
penting lagi, materialnya buatan dalam negeri, dan mudah dicari.
Berawal dari kecintaannya terhadap alam, lahir sebuah karya unik
miniature curug (air terjun) dalam gentong lengkap dengan ornament
pendukungnya. Mulanya kreasi tersebut hanya untuk dinikmati Rico
sendiri. Dengan begitu kala rasa rindu pada alam pedesaan dan pegunungan
datang, dia bisa memandangi kreasinya, yang meski hanya sebuah
miniature namun dapat mengobati sedikit rasa rindunya.
"Rasa cinta saya pada alam memang sudah tumbuh sejak kecil. Ketika
saya berangkat remaja, saya gemar sekali mendaki gunung. Menikmati alam
membuat hati kita tenang. Sampai suatu ketika saya berpikir, kenapa
tidak saya pindahkan saja suasana alam pedesaan lengkap dengan air
terjunnya ke rumah. Lalu bagaimana membungkusnya agar tampak menarik dan
unik, secara tak sengaja mata saya melihat gentong. Dari situlah karya
itu berawal," ungkap Rico yang dijumpai di Gedung Pameran Kantor
Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta.
Untuk menghasilkan karya seperti sekarang, lanjutnya, dibutuhkan
waktu cukup lama. Setidaknya saat pertama kali ide itu didapat tahun
1993. "Saya melakukannya secara otodidak, tidak ada panduan, apalagi
yang mengajari. Percobaan demi percobaan saya lakukan sendiri, sehingga
lama kelamaan karya saya menjadi lebih baik," tambah bapak lima anak
yang juga hobi melukis dan teater ini. Latar belakang seni yang
dimilikinya sangat membantunya dalam menyempurnakan karyanya sehingga
terlihat unik dan berseni.
Semua itu memang berawal dari iseng dan sekadar hobi. Karena itu Rico
tidak menetapkan suatu nilai (rupiah) tertentu apabila ada yang meminta
membuatkan curug gentong. Tak terasa semakin banyak yang memiliki
produk kreasi Rico, maklum selain banyak yang minta dibuatkan, dia juga
kerap membagi-bagikannya kepada saudara maupun teman-temannya sebagai
hadiah. Respon mereka pun sangat baik sehingga semakin membuat Rico
bersemangat. "Tapi sejauh itu saya masih menekuninya sebagai hobi, belum
berpikir ke bisnis. Meski pesanan makin lama makin banyak," ujarnya.
Apa yang disebut orang getuk tular rupanya terjadi pada karya Rico.
Promosi dari mulut ke mulut membuat karyanya makin dikenal sehingga tak
terasa pesanan makin banyak dan membuatnya nyaris kewalahan.
Kuncinya, Mutu dan Desain
Dari sanalah dia melihat bahwa ternyata hobi yang ditekuninya itu
bisa dijadikan lahan bisnis. Sejak pikiran itu terlintas, Rico menjadi
semakin serius. Pesanan-pesanan ditanganinya secara professional dengan
penekanan pada mutu dan keunikan desain. Hal ini agaknya menjadi salah
satu kunci kenapa produknya mendapat tempat di hati masyarakat,
khususnya penggemar seni.
"Ketika pikiran untuk menjadikan hobi saya menjadi bisnis, saya
langsung melakukan persiapan-persiapan. Saya tidak mengubah apa yang
selama ini telah berjalan, termasuk media gentong yang membungkus air
terjun. Nama dagang pun sesuai dengan produknya, saya pilih nama "Curug
Gentong". Curug dalam bahasa Sunda berarti air terjun," jelas Rico yang
terjun ke bisnis ini tahun 2003.
Dengan modal yang relative tidak besar, Rico memulai bisnisnya dengan
memproduksi beragam curug gentong dengan desain-desain unik.
Produk-produk itu kemudian diperkenalkannya lewat berbagai pameran.
Ternyata responnya sangat bagus. Sejak awal dilempar ke pasar umum,
tingkat penjualan sudah menunjukkan angka menjanjikan. Dia pun mulai
mendapat pesanan-pesanan dari buyer local maupun asing lewat
pameran-pameran yang diikutinya. Keberhasilan ini bukan hanya mengangkat
nama Rico sebagai pengusaha sekaligus pembuat curug gentong tapi juga
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok, Jawa Barat, yang
menetapkan karyanya sebagai salah satu produk unggulan kota Depok.
"Saya memang belum pernah berpameran ke luar negeri. Namun sejumlah
pembeli asing, entah wisatawan atau buyer, saya dapat dari berbagai
pameran di dalam negeri. Malah baru-baru ini saya dapat buyer dari
Malaysia dan Singapura, mereka memesan curug gentong," kata Rico yang
mengaku hanya mengandalkan pemasarannya hanya pada pameram-pameran.
Memang Rico tidak memasukkan produknya ke art shop-art shop atau
gallery yang banyak bertebaran di mana-mana. Bukannya tak ada permintaan
untuk hal tersebut, namun menurut Rico karena produk yang dijualnya
bukan barang biasa. "Produk saya perlu perawatan rutin agar tidak rusak.
Misalnya, harus menambahkan air setiap dua pekan sekali, atau
membersihkannya sebulan sekali. "Nah, hal ini kan tak mungkin dilakukan
(perawatan yang telaten) oleh petugas toko tempat barang ini dititip.
Bisa-bisa barang saya jadi rusak. Kalau sudah begitu, kan, bisa sia-sia
kerja saya. Makanya saya putuskan tidak menitipkan di art shop atau
gallery, meski ada permintaan untuk itu," tandasnya.
Karena belum memiliki gallery khusus di lokasi strategis, maka Rico
membangun ruang pamer di rumahnya sendiri. Dengan begitu bila ada
pembeli datang, bisa langsung memilih sesuai yang diinginkan.
Seiring makin derasnya permintaan, dia merekrut empat karyawan yang
masing-masing menghasilkan enam curug gentong pertiga hari. Dengan
demikian per bulan rata-rata produksi mencapai ratusan curug gentong.
Bisa dibayangkan berapa produksi curug gentong Rico per tahunnya. Ini
belum termasuk kalau ada pesanan maka ketiga anak maupun istrinya pun
ikut terlibat dalam pembuatan.
"Saya mengajarkan pembuatan curug gentong ini pada istri dan ketiga
anak saya. Boleh dibilang merekalah murid saya pertama. Sekarang mereka
sudah menguasai pembuatannya dan aktif membantu. Selain itu istri saya
juga terlibat dalam manajemen usaha ini," tuturnya.
Bicara pengadaan material curug gentong, Rico mengatakan, sejauh ini
tidak menemukan kendala yang berarti. Hal ini karena material yang
digunakan selain berasal dari dalam negeri juga mudah mendapatkannya.
Batu karang, batu apung dan semen. Sedang gentongnya didapat dari
Tangerang dan Serang. "Tapi khusus untuk kelas menengah atas, saya
menggunakan gentong keramik supaya lebih elegan dan eksklusif," ucapnya.
Dari segi desain dia pun tidak merasa kesulitan. Idenya dari alam,
tambah Rico yang mengaku bila merasakan kebuntuan ide, dia lantas lari
ke alam.
"Alam menjadi sumber inspirasi saya. Saya tidak mencarinya di buku
atau media lain. Justru kalau sekadar menjiplak dari majalah atau yang
lain, ide saya jadi buntu," papar Rico yang telah mematenkan karyanya
sejak dua tahun lalu.
Tak Khawatir Dijiplak
Mengomentari tentang kerapnya produk-produk laris mengalami
penjiplakan dari pihak lain, Rico dengan santai mengaku, tidak
mengkhawatirkan hal tersebut. "Kalau ada yang menjiplak, ya bagus lah,
berarti ikut mengentaskan pengangguran. Saya tidak merasa tersaingi,
saya sudah siap kok," ujar Rico santai. Baginya persaingan justru lebih
bagus semakin memacu kreativitasnya. Kuncinya, harus kreatif dan
inovatif, desain harus terus diperbaharui. Misalnya, curug gentong yang
tampak seolah mengeluarkan asap, atau curug gentong aromatherapy, curug
gentong yang bisa digantung juga curug dalam pigura. "Atau membuat
semacam maket. Misalnya di satu meja, kita bisa membuat perkampungan,
persawahan, dll. Jadi intinya kita harus kreatif".
Untuk karyanya, Rico mengaku tidak mematok harga tinggi. Variasi
harga berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 2 juta. Tidak terlalu mahal
memang untuk sebuah karya seni yang unik. "Sebab saya ingin semua
lapisan masyarakat bisa menikmatinya juga. Harga semakin tinggi kalau
tingkat kesulitan pembuatannya makin rumit," ucapnya sambil menunjuk
sebuah curug gentong yang dihargainya Rp 800 ribu.
Kebetulan ketika berkunjung ke standnya, curug gentong yang tersisa
hanya beberapa. Itupun yang harganya di bawah Rp 1 jutaan. "Yang lain
sudah laku terjual. Termasuk curug gentong yang terbuat dari keramik,"
kata Rico yang juga menyelenggarakan kursus pembuatan curug gentong di
rumahnya.
Ada pula curug gentong hasil kreatifitas Rita Apriyanti. Anda tentu
sudah memahami bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Tapi,
tahukah Anda bahwa kesulitan yang dialami satu pihak berarti peluang
bisnis bagi pihak yang lain? Karena, pihak yang lain melalui berbagai
cara akan berusaha mengubah kesulitan itu menjadi kemudahan. Hal ini
pulalah yang dilakukan oleh Rita Apriyanti, kala melihat temannya yang
akan pindah rumah mengalami kesulitan memindahkan landscape di rumahnya.
Pada 2003, dengan modal awal Rp5 juta (1,5 tahun kemudian modal usaha
ini berkembang menjadi Rp10 juta, red.), ia membuat landscape yang
dinamai curug gentong. Curug gentong yang fokus utamanya pada suara
gemericik air, seolah-olah menghadirkan nuansa alam di dalam rumah
sehingga muncul ketenangan batin," jelasnya. Selain itu, curug gentong
yang ditawarkan dengan harga Rp100 ribu hingga Rp750 ribu ini, juga
dapat dipindah-pindahkan.
Untuk menciptakan nuansa alam di dalam gentong, digunakan berbagai
macam bahan baku seperti limbah batu apung, kerikil, semen, dan kayu
yang dibentuk sedemikian rupa. Selanjutnya, dengan lem khusus,
bahan-bahan tersebut direkatkan ke dalam "perut" gentong yang sebagian
sudah dilubangi dengan alat khusus atau cukup dengan tangan. Untuk
membuatnya lebih indah, curug gentong ini dihiasi dengan lampu air
berkekuatan 10 watt sampai 25 watt atau lampu bohlam berkekuatan 5 watt.
Untuk membuat curug gentong ini, setiap bulan, Rita membelanjakan
uangnya sebesar Rp 2 juta sampai Rp3 juta untuk membeli 100 gentong
dalam berbagai ukuran dan bentuk. Dalam hal ini, ia menjalin kerja sama
dengan pengrajin gentong di Plered, Purwakarta. 50 gentong diproduksi
untuk memenuhi pemesanan dan sisanya dibuat sebagai persediaan. "Dalam
sebulan, rata-rata terjual 50 gentong. Jumlah ini meningkat 30% usai
pameran," kata perempuan yang rata-rata meraup omset Rp5 juta hingga
Rp15 juta setiap bulannya.
Untuk meningkatkan penjualan, ia aktif berpromosi. Di samping itu,
juga melayani mereka yang membeli untuk dijual kembali dengan sistem
beli putus. "Tapi, setelah satu bulan curug gentong yang mereka ambil
ternyata tidak laku, mereka boleh mengembalikannya untuk tukar model,"
ujarnya. Sekadar informasi, curug gentong kini telah merambah Batam,
Pekanbaru, Samarinda, Lampung, Sumatera Barat, Malang, dan Ternate.
"Sedangkan untuk Malaysia, Singapura, dan Filipina dilakukan olehbuyer,"
imbuhnya.
Servis seperti tersebut di atas tidak hanya diberikan Rita kepada
para distributor, tetapi juga kepada para konsumennya. "Terus menerus
terkena air dan juga karena dimakan waktu, akan membuat warna cat
memudar (bukan mengelupas,red.). Konsumen dapat meminta untuk dilakukan
pengecatan ulang dengan charge 50 ribu hingga Rp100 ribu. Tapi, hal ini
hanya boleh dilakukan setelah enam bulan curug gentong itu dibeli,"
katanya. Selain itu, bila konsumen sudah bosan dengan model curug
gentongnya, mereka dapat menggantinya dengan menukar tambah sebesar Rp50
ribu. "Syaratnya, barang tidak dalam kondisi rusak atau cacat,"
lanjutnya.
Rita yang dalam bisnis ini dibantu suami dan lima karyawan freelance
yang masing-masing dibayar Rp100 ribu/minggu, juga membuat miniatur
taman berikut air terjunnya untuk digantung dengan media kayu, sehingga
mirip dengan lukisan. Selain itu, juga membuat taman dan air terjun mini
di dalam pot bonsai, kaleng biskuit, dan guci. "Karena saya belum
mempunyaioutlet, konsumen yang ingin membeli atau memesan curug gentong
sesuai dengan model yang mereka inginkan, dapat langsung datang ke home
industry saya di kawasan Pancoran Mas, Depok," ucap wanita yang dalam
waktu dekat berencana membuka gerai di Batam. (fn/lp/ok/mb/mp) www.suaramedia.com

0 komentar:
Posting Komentar