Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Usaha Curug Gentong, "Obat Stress" Dengan Modal Terbatas

Usaha Curug Gentong, "Obat Stress" Dengan Modal Terbatas

Written By Kopi Miracle on Selasa, 26 Juni 2012 | 08.15

B-DETIK/ - Seperti ketika krisis moneter yang berlanjut kepada krisis ekonomi 1998 lalu, bisnis rakyat atau UKM lah yang mampu bertahan dari badai. Bisnis rakyat yang tidak mengandalkan materialnya dari barang-barang import, terbukti mampu tetap hidup. Maka kini krisis kembali terjadi. Beda dengan dulu, ketika tidak semua negara mengalaminya, tapi kini krisis perekonomian mendunia. Tapi diyakini, bisnis rakyat tetap mampu survive. 

Berawal dari keinginan memanfaatkan gentong yang terbuang sia-sia, dua pemuda warga Kudus, Jawa Tengah, dapat menciptakan sebuah kerajinan miniatur taman. Mereka adalah Erwin dan Ubaidilah. Saat ditemui baru-baru ini, keduanya mengaku membuat kerajinan tangan seperti ini tidaklah rumit.

Awal pembuatan miniatur taman dimulai dengan melubangi salah satu sisi gentong. Selanjutnya, susunlah batu untuk membentuk tebing atau pun bukit sebagai dasar ornamen taman. Setelah penataan dasar taman selesai, tahap selanjutnya menambahkan hiasan seperti pohon, air mancur, dan lampu hias.

Usaha yang dirintis Erwin dan Ubaidilah tidak sia-sia. Setiap bulannya, tidak kurang dari 30 miniatur taman gentong laku dijual. Dengan modal Rp 150 ribu untuk gentong ukuran sedang dan Rp 450 ribu untuk gentong ukuran besar, Erwin mampu meraup keuntungan tiga kali lipat.
Sejak dirintis tiga tahun silam, usaha miniatur taman gentong kini berbuah manis. Selain dipasarkan ke sejumlah daerah di Tanah Air seperti Jawa Barat, Jakarta, dan Sumatra, miniatur taman gentong ini diminati pula pembeli dari Austria, Australia dan Amerika Serikat. Anda tertarik juga?

Bagi Anda yang akan berwisata ke Depok, ada satu pilihan oleh-oleh yang dapat dibawa dan merupakan asli buatan tangan sepasang suami istri di Komplek Samudra, Jalan Sersan Aning, A5 I RT01/06, J Depok, Pancoranmas, Depok.

Rita Apriyanti dan Rery Enrico membuat kerajinan khas Depok, yaitu curug gentong yang berarti miniatur air terjun di dalam gentong.

Curug gentong (CG) yang dibuat pasangan tersebut memiliki keindahan tersendiri. Dengan sentuhan seni tinggi air terjun dipadu dengan nuansa alam pedesaan serta rumah tradisional Sunda itu seolah-olah terlihat nyata.

Keindahan curug dengan nuansa alam pedesaan itu juga ditampilkan ke dalam guci yang dilubangi dan juga disajikan di pot kembang terbuka, baik itu yang berukuran besar maupun kecil. Untuk harga buah tangan tersebut antara Rp200,000 hingga Rp800,000. Sedangkan untuk pesanan yang berukuran besar harganya bisa mencapai Rp1,8 juta.

Hebatnya, hasil karya seni itu pun menarik perhatian warga Singapura, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Demi mendapatkan karya seni khas warga Depok itu, mereka rela jauh-jauh datang ke Depok.

"Warga negara itu sendiri yang datang ke sini untuk membeli curug gentong. Kami belum memasarkan secara banyak ke luar negeri," kata putri ketiga Rita, Aditya Istiarahma di Depok.

Sementara itu, Rita mengatakan, ia belum berani memasarkan curug gentong secara besar ke dunia internasional karena membutuhkan persiapan yang matang baik itu sumber daya manusia dan permodalannya.

Namun sejauh ini, untuk pemasaran secara nasional sudah mencapai seluruh provinsi di Indonesia. Pengiriman curug gentong itu melalui ekspedisi yang dipercaya Rita dan ongkos pengiriman ditanggung pembeli. Produksi curug gentong setiap harinya, lanjut Rita, dapat mencapai tiga sampai empat gentong. "Namun untuk selesai sampai penyelesaian akhir membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat hari. Setiap hari produksi gentong," katanya.

Menurut Rita, material yang digunakannya merupakan bahan daur ulang. Untuk gentong dibelinya di kawasan Depok. Meski, Curug gentong banyak diproduksi oleh perajin lain di wilayah Jabodetabek, namun Rita mengklaim, dibanding dengan curug gentong lain, buatannya memiliki kualitas jauh lebih baik.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok pun memfasilitasi Rita untuk ikut serta dalam berbagai ajang pameran, termasuk Batam Expo pada 2007. Terakhir kali tampil dalam Jakarta Fair 2008.

Karena  itu, bagi Anda yang singgah di Depok, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh asli Depok, yaitu curug gentong.
Begitu juga dengan Rico, bisnis yang ditekuninya memproduksi kerajinan air terjun curug. Modalnya tak besar, materialnya pun asli dalam negeri, dan mudah didapat. Tapi hasilnya, terbilang cukup lumayan. Karena sekalipun daya beli masyarakat jauh menurun, tetap saja ada peluang untuk memasarkan produk-produknya. Apalagi harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Yang positifnya lagi, produk Rico mampu memberi ketenangan bagi mereka yang stress. Maklum, siapa sih yang tidak tenang dan nyaman, mendengar suara gemericik air, memandang alam 'buatan'...
Bisnis Rico ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat yang ingin mencoba berbisnis namun dengan modal terbatas. Karena hanya sedikit 'pemain' di bidang ini. Apalagi modalnya pun tidak besar. Dan yang penting lagi, materialnya buatan dalam negeri, dan mudah dicari.
Berawal dari kecintaannya terhadap alam, lahir sebuah karya unik miniature curug (air terjun) dalam gentong lengkap dengan ornament pendukungnya. Mulanya kreasi tersebut hanya untuk dinikmati Rico sendiri. Dengan begitu kala rasa rindu pada alam pedesaan dan pegunungan datang, dia bisa memandangi kreasinya, yang meski hanya sebuah miniature namun dapat mengobati sedikit rasa rindunya.
"Rasa cinta saya pada alam memang sudah tumbuh sejak kecil. Ketika saya berangkat remaja, saya gemar sekali mendaki gunung. Menikmati alam membuat hati kita tenang. Sampai suatu ketika saya berpikir, kenapa tidak saya pindahkan saja suasana alam pedesaan lengkap dengan air terjunnya ke rumah. Lalu bagaimana membungkusnya agar tampak menarik dan unik, secara tak sengaja mata saya melihat gentong. Dari situlah karya itu berawal," ungkap Rico yang dijumpai  di Gedung Pameran Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta.
Untuk menghasilkan karya seperti sekarang, lanjutnya, dibutuhkan waktu cukup lama. Setidaknya saat pertama kali ide itu didapat tahun 1993. "Saya melakukannya secara otodidak, tidak ada panduan, apalagi yang mengajari. Percobaan demi percobaan saya lakukan sendiri, sehingga lama kelamaan karya saya menjadi lebih baik," tambah bapak lima anak yang juga hobi melukis dan teater ini. Latar belakang seni yang dimilikinya sangat membantunya dalam menyempurnakan karyanya sehingga terlihat unik dan berseni.
Semua itu memang berawal dari iseng dan sekadar hobi. Karena itu Rico tidak menetapkan suatu nilai (rupiah) tertentu apabila ada yang meminta membuatkan curug gentong. Tak terasa semakin banyak yang memiliki produk kreasi Rico, maklum selain banyak yang minta dibuatkan, dia juga kerap membagi-bagikannya kepada saudara maupun teman-temannya sebagai hadiah. Respon mereka pun sangat baik sehingga semakin membuat Rico bersemangat. "Tapi sejauh itu saya masih menekuninya sebagai hobi, belum berpikir ke bisnis. Meski pesanan makin lama makin banyak," ujarnya.
Apa yang disebut orang getuk tular rupanya terjadi pada karya Rico. Promosi dari mulut ke mulut membuat karyanya makin dikenal sehingga tak terasa pesanan makin banyak dan membuatnya nyaris kewalahan.
Kuncinya, Mutu dan Desain
Dari sanalah dia melihat bahwa ternyata hobi yang ditekuninya itu bisa dijadikan lahan bisnis. Sejak pikiran itu terlintas, Rico menjadi semakin serius. Pesanan-pesanan ditanganinya secara professional dengan penekanan pada mutu dan keunikan desain. Hal ini agaknya menjadi salah satu kunci kenapa produknya mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya penggemar seni.
"Ketika pikiran untuk menjadikan hobi saya menjadi bisnis, saya langsung melakukan persiapan-persiapan. Saya tidak mengubah apa yang selama ini telah berjalan, termasuk media gentong yang membungkus air terjun. Nama dagang pun sesuai dengan produknya, saya pilih nama "Curug Gentong". Curug dalam bahasa Sunda berarti air terjun," jelas Rico yang terjun ke bisnis ini tahun 2003.
Dengan modal yang relative tidak besar, Rico memulai bisnisnya dengan memproduksi beragam curug gentong dengan desain-desain unik. Produk-produk itu kemudian diperkenalkannya lewat berbagai pameran. Ternyata responnya sangat bagus. Sejak awal dilempar ke pasar umum, tingkat penjualan sudah menunjukkan angka menjanjikan. Dia pun mulai mendapat pesanan-pesanan dari buyer local maupun asing lewat pameran-pameran yang diikutinya. Keberhasilan ini bukan hanya mengangkat nama Rico sebagai pengusaha sekaligus pembuat curug gentong tapi juga Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok, Jawa Barat, yang menetapkan karyanya sebagai salah satu produk unggulan kota Depok.
"Saya memang belum pernah berpameran ke luar negeri. Namun sejumlah pembeli asing, entah wisatawan atau buyer, saya dapat dari berbagai pameran di dalam negeri. Malah baru-baru ini saya dapat buyer dari Malaysia dan Singapura, mereka memesan curug gentong," kata Rico yang mengaku hanya mengandalkan pemasarannya hanya pada pameram-pameran.
Memang Rico tidak memasukkan produknya ke art shop-art shop atau gallery yang banyak bertebaran di mana-mana. Bukannya tak ada permintaan untuk hal tersebut, namun menurut Rico karena produk yang dijualnya bukan barang biasa. "Produk saya perlu perawatan rutin agar tidak rusak. Misalnya, harus menambahkan air setiap dua pekan sekali, atau membersihkannya sebulan sekali. "Nah, hal ini kan tak mungkin dilakukan (perawatan yang telaten) oleh petugas toko tempat barang ini dititip. Bisa-bisa barang saya jadi rusak. Kalau sudah begitu, kan, bisa sia-sia kerja saya. Makanya saya putuskan tidak menitipkan di art shop atau gallery, meski ada permintaan untuk itu," tandasnya.
Karena belum memiliki gallery khusus di lokasi strategis, maka Rico membangun ruang pamer di rumahnya sendiri. Dengan begitu bila ada pembeli datang, bisa langsung memilih sesuai yang diinginkan.
Seiring makin derasnya permintaan, dia merekrut empat karyawan yang masing-masing menghasilkan enam curug gentong pertiga hari. Dengan demikian per bulan rata-rata produksi mencapai ratusan curug gentong. Bisa dibayangkan berapa produksi curug gentong Rico per tahunnya. Ini belum termasuk kalau ada pesanan maka ketiga anak maupun istrinya pun ikut terlibat dalam pembuatan.
"Saya mengajarkan pembuatan curug gentong ini pada istri dan ketiga anak saya. Boleh dibilang merekalah murid saya pertama. Sekarang mereka sudah menguasai pembuatannya dan aktif membantu. Selain itu istri saya juga terlibat dalam manajemen usaha ini," tuturnya.
Bicara pengadaan material curug gentong, Rico mengatakan, sejauh ini tidak menemukan kendala yang berarti. Hal ini karena material yang digunakan selain berasal dari dalam negeri juga mudah mendapatkannya. Batu karang, batu apung dan semen. Sedang gentongnya didapat dari Tangerang dan Serang. "Tapi khusus untuk kelas menengah atas, saya menggunakan gentong keramik supaya lebih elegan dan eksklusif," ucapnya. Dari segi desain dia pun tidak merasa kesulitan. Idenya dari alam, tambah Rico yang mengaku bila merasakan kebuntuan ide, dia lantas lari ke alam.
"Alam menjadi sumber inspirasi saya. Saya tidak mencarinya di buku atau media lain. Justru kalau sekadar menjiplak dari majalah atau yang lain, ide saya jadi buntu," papar Rico yang telah mematenkan karyanya sejak dua tahun lalu.
Tak Khawatir Dijiplak
Mengomentari tentang kerapnya produk-produk laris mengalami penjiplakan dari pihak lain, Rico dengan santai mengaku, tidak mengkhawatirkan hal tersebut. "Kalau ada yang menjiplak, ya bagus lah, berarti ikut mengentaskan pengangguran. Saya tidak merasa tersaingi, saya sudah siap kok," ujar Rico santai. Baginya persaingan justru lebih bagus semakin memacu kreativitasnya. Kuncinya, harus kreatif dan inovatif, desain harus terus diperbaharui. Misalnya, curug gentong yang tampak seolah mengeluarkan asap, atau curug gentong aromatherapy, curug gentong yang bisa digantung juga curug dalam pigura. "Atau membuat semacam maket. Misalnya di satu meja, kita bisa membuat perkampungan, persawahan, dll. Jadi intinya kita harus kreatif".
Untuk karyanya, Rico mengaku tidak mematok harga tinggi. Variasi harga berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 2 juta. Tidak terlalu mahal memang untuk sebuah karya seni yang unik. "Sebab saya ingin semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya juga. Harga semakin tinggi kalau tingkat kesulitan pembuatannya makin rumit," ucapnya sambil menunjuk sebuah curug gentong yang dihargainya Rp 800 ribu.
Kebetulan ketika berkunjung ke standnya, curug gentong yang tersisa hanya beberapa. Itupun yang harganya di bawah Rp 1 jutaan. "Yang lain sudah laku terjual. Termasuk curug gentong yang terbuat dari keramik," kata Rico yang juga menyelenggarakan kursus pembuatan curug gentong di rumahnya.
Ada pula curug gentong hasil kreatifitas Rita Apriyanti. Anda tentu sudah memahami bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Tapi, tahukah Anda bahwa kesulitan yang dialami satu pihak berarti peluang bisnis bagi pihak yang lain? Karena, pihak yang lain melalui berbagai cara akan berusaha mengubah kesulitan itu menjadi kemudahan. Hal ini pulalah yang dilakukan oleh Rita Apriyanti, kala melihat temannya yang akan pindah rumah mengalami kesulitan memindahkan landscape di rumahnya.
Pada 2003, dengan modal awal Rp5 juta (1,5 tahun kemudian modal usaha ini berkembang menjadi Rp10 juta, red.), ia membuat landscape yang dinamai curug gentong. Curug gentong yang fokus utamanya pada suara gemericik air, seolah-olah menghadirkan nuansa alam di dalam rumah sehingga muncul ketenangan batin," jelasnya. Selain itu, curug gentong yang ditawarkan dengan harga Rp100 ribu hingga Rp750 ribu ini, juga dapat dipindah-pindahkan.
Untuk menciptakan nuansa alam di dalam gentong, digunakan berbagai macam bahan baku seperti limbah batu apung, kerikil, semen, dan kayu yang dibentuk sedemikian rupa. Selanjutnya, dengan lem khusus, bahan-bahan tersebut direkatkan ke dalam "perut" gentong yang sebagian sudah dilubangi dengan alat khusus atau cukup dengan tangan. Untuk membuatnya lebih indah, curug gentong ini dihiasi dengan lampu air berkekuatan 10 watt sampai 25 watt atau lampu bohlam berkekuatan 5 watt.
Untuk membuat curug gentong ini, setiap bulan, Rita membelanjakan uangnya sebesar Rp 2 juta sampai Rp3 juta untuk membeli 100 gentong dalam berbagai ukuran dan bentuk. Dalam hal ini, ia menjalin kerja sama dengan pengrajin gentong di Plered, Purwakarta. 50 gentong diproduksi untuk memenuhi pemesanan dan sisanya dibuat sebagai persediaan. "Dalam sebulan, rata-rata terjual 50 gentong. Jumlah ini meningkat 30% usai pameran," kata perempuan yang rata-rata meraup omset Rp5 juta hingga Rp15 juta setiap bulannya.
Untuk meningkatkan penjualan, ia aktif berpromosi. Di samping itu, juga melayani mereka yang membeli untuk dijual kembali dengan sistem beli putus. "Tapi, setelah satu bulan curug gentong yang mereka ambil ternyata tidak laku, mereka boleh mengembalikannya untuk tukar model," ujarnya. Sekadar informasi, curug gentong kini telah merambah Batam, Pekanbaru, Samarinda, Lampung, Sumatera Barat, Malang, dan Ternate. "Sedangkan untuk Malaysia, Singapura, dan Filipina dilakukan olehbuyer," imbuhnya.
Servis seperti tersebut di atas tidak hanya diberikan Rita kepada para distributor, tetapi juga kepada para konsumennya. "Terus menerus terkena air dan juga karena dimakan waktu, akan membuat warna cat memudar (bukan mengelupas,red.). Konsumen dapat meminta untuk dilakukan pengecatan ulang dengan charge 50 ribu hingga Rp100 ribu. Tapi, hal ini hanya boleh dilakukan setelah enam bulan curug gentong itu dibeli," katanya. Selain itu, bila konsumen sudah bosan dengan model curug gentongnya, mereka dapat menggantinya dengan menukar tambah sebesar Rp50 ribu. "Syaratnya, barang tidak dalam kondisi rusak atau cacat," lanjutnya.
Rita yang dalam bisnis ini dibantu suami dan lima karyawan freelance yang masing-masing dibayar Rp100 ribu/minggu, juga membuat miniatur taman berikut air terjunnya untuk digantung dengan media kayu, sehingga mirip dengan lukisan. Selain itu, juga membuat taman dan air terjun mini di dalam pot bonsai, kaleng biskuit, dan guci. "Karena saya belum mempunyaioutlet, konsumen yang ingin membeli atau memesan curug gentong sesuai dengan model yang mereka inginkan, dapat langsung datang ke home industry saya di kawasan Pancoran Mas, Depok," ucap wanita yang dalam waktu dekat berencana membuka gerai di Batam. (fn/lp/ok/mb/mp) www.suaramedia.com
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sajian Berita Bermutu Anda - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger