
“Dulu waktu zaman kuliah saya susah mencari sepatu. Kebanyakan harus bikin custom karena kaki saya panjang,” begitu cerita Arlita mengawali kisah perjalanan usahanya yang diberi nama Sepatuku Baru.
Terinspirasi dari pengalaman pribadinya itu, Arlita melihat besarnya peluang bisnis sepatu custom hand made ini.
Awalnya ia menggandeng salah seorang koleganya yang memproduksi sepatu.
Arlita yang mencari pasarnya, sedangkan rekannya yang memproduksi
sepatu tersebut.
“Tapi karena sudah beda tujuan
akhirnya kami buat kesepakatan, saya mau lepas dan produksi sepatu
dengan merek saya sendiri di tahun 2008,” kenang Arlita saat ditemui
Ciputra Entrepreneurship beberapa waktu lalu.
Untuk memulai produksi Sepatuku
Baru ini Arlita harus rela meninggalkan pekerjaannya sebagai
Relationship Manager di salah satu Bank multinasional di Jakarta. Arlita
dan sang suami, Bagus bergumul cukup lama untuk melewati masa ini. Bagi
mereka, bukan keputusan sederhana untuk mengambil keputusan Arlita
keluar dari pekerjaannya.
“Awalnya takut banget, kita sampai
diskusi 1 bulan. Dan yang paling susah itu meyakinkan orang tua kita
karena mereka khawatir bagaimana nanti kalau usahanya bankrut, bayar
sekolah anak, dan kebutuhan lainnya,” cerita Bagus.
Padahal saat keluar dari pekerjaan itu Arlita dan Bagus baru saja memulai kredit rumah dan mobil. Kondisi Arlita yang bekerja di Bank memungkinkan mereka untuk mendapatkan privilege dalam pengajuan kredit, dimana mereka hanya dikenakan Bunga sebesar 2%. Privilege inilah yang membuat Arlita ragu untuk mundur dari profesinya.
Setelah mengambil keputusan resign
Arlita memulai hari barunya dengan penuh ketidak pastian. Uang pesangon
dari kantornya telah habis untuk modal awal membuka produksi sepatunya.
Uang habis namun pesanan belum sesuai harapan. Rasa resah dan panik
menyelimutinya di masa-masa awal berbisnis.
Untuk membuka bengkel sepatu ini Arlita dan Bagus menghabiskan setidaknya Rp 50 juta rupiah untuk sewa rumah dan pembelian alat-alat produksi. Mereka memilih sebuah rumah di satu kampung di daerah Serpong, Tangerang Selatan dekat rumah mereka untuk disulap jadi pabrik mungil.
Setelah semua terpenuhi ternyata
kesulitan belum usai. Pasutri yang telah dikaruniai 2 orang anak ini
kesulitan mencari tenaga yang ahli dalam produksi sepatu. Bagus sampai
harus memasang iklan di berbagai media cetak untuk mendapatkan orang
yang sesuai.
“Ternyata yang paling susah cari
tukangnya. Hampir semua koran kita iklan, dalam semingu kita bisa habis
Rp 1 juta cuma buat pasang iklan baris di koran-koran untuk cari tukang
itu,” Kenang Bagus yang saat ini pun masih aktif bekerja di sebuah
perusahaan telekomunikasi nasional.
Usaha tak kenal lelah yang dilakoni
suami-isteri ini tak sia-sia. Setelah mendapatkan tukang yang sesuai
dengan kriteria mereka orderan pun semakin meningkat. Hal ini diyakini
Bagus selain karena promosi yang gencar lewat dunia maya, juga karena
doa para pekerjanya.
“Pernah beberapa hari kita nggak ada orderan sama sekali, terus kita bilang sama mereka ’Pak doain ya, lagi sepi orderan nih’ ternyata benar, besoknya mulai ada pesanan lagi,” tuturnya.
Menurut Arlita, mereka sangat
menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dengan para pekerja di bengkel.
Tujuannya tak lain adalah untuk menjaga kualitas Sepatuku Baru. “Mereka
minta setrika, sampai param kocok ya kita belikan. Yang penting
kualitas,” ujarnya. Saat ini ia dibantu oleh 7 orang pekerja. Lima orang
bertugas memproduksi sepatu dan 2 orang lainnya menjadi tim penjualan
Sepatuku Baru.
Berkat dari kenekatan, kerja keras,
dan rasa menghargai sesama manusia ini, Sepatuku Baru telah menuai
buah yang manis. Saat ini pelanggan Sepatuku Baru tak hanya datang dari
individu yang ingin membuat sepatu custom
tapi juga dari berbagai butik di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan
beberapa butik di daerah Kemang, Jakarta Selatan dan beberapa butik di
pusat perbelanjaan terbesar telah menjadi kliennya.
Bagus dan Arlita mematok harga Rp
200 ribu hingga Rp 500 ribu per pasang sepatu. Harga tersebut
disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan bahan dari sepatu yang dipesan.
Walau harga yang ditawarkan cukup tinggi namun mereka tidak khawatir
akan tersaingi dengan produk lainnya.
“Sepatuku Baru menawarkan eksklusifitas karena dibuat sesuai permintaan pelanggan. Jadi pasti tidak pasaran,”ujar Arlita.
Angka penjualan yang semakin
meningkat ini tak membuat fokus Arlita dan Bagus berubah. Sepatuku Baru
tetap berfokus pada produksi sepatu kustom dan asli buatan tangan.
Bahkan mereka pun sangat jarang membuat sepatu yang ready stock kecuali saat ada perayaan tertentu seperti Lebaran.
Bagus menuturkan, pernah ada salah
satu department store menawarkan order tetap sebanyak 2 ribu pasang
sepatu per minggu namun ia tolak. Alasannya, ia tak mau menurunkan
kualitas sepatu kustom demi orderan tersebut.
“Mungkin satu saat kami bisa terima
orderan partai besar seperti itu, tapi jelas terpisah dari Sepatuku
Baru. Sepatuku Baru fokus untuk orderan kustom. Kalau orderan butik, kan
jumlahnya juga terbatas, tidak partai besar jadi masih kami layani,”
jelasnya.
Untuk mengantisipasi pemakaian nama
Sepatuku Baru oleh orang lain, Bagus telah mematenkan nama nama
usahanya tersebut di Kementerian Hukum dan HAM. Ke depan Arlita dan
Bagus ingin mendirikan badan hukum untuk menaungi Sepatuku Baru. Namun
soal badan hukum ini menjadi salah satu kendala Sepatuku Baru untuk
maju.
“Bagi kami sekarang ini fase
terberat, bagaimana Sepatuku Baru bisa maju. Kendalanya kalau mau
mengajukan pinjaman usaha ke bank harus sudah berbadan hukum, tapi
membuat badan hukum itu mahal sekali,” ungkap Bagus mengakhiri
pembicaraan.
Sumber: Ciputraentrepreneurship.com
0 komentar:
Posting Komentar