Diberdayakan oleh Blogger.
Home » » Ketika Warga Tinggal di Gorong-Gorong

Ketika Warga Tinggal di Gorong-Gorong

Written By Kopi Miracle on Selasa, 03 Juli 2012 | 21.34



Suryo
Suryopratomo
INI bukanlah sebuah cerita yang dilebih-lebihkan. Tetapi itulah fakta yang sebenarnya terjadi. Gorong-gorong yang dibuat untuk mengontrol aliran air di Jakarta ternyata digunakan oleh sebagian masyarakat untuk tempat tinggal.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo bukan tidak mengetahui hal ini. Ia justru kaget ketika mendapati kenyataan bahwa ada bagian dari sistem drainase kota yang dibangun, ternyata dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.

Semua ini bisa terjadi karena Jakarta dianggap sebagai kota yang bisa memberikan penghidupan yang lebih baik. Banyak orang yang lalu mencoba mencari peruntungan dengan datang ke Jakarta. Urbanisasi merupakan kenyataan yang harus diterima dan Jakarta merupakan kota pilihan utama.

Tanpa keahlian yang dimiliki, tidaklah mungkin mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di Jakarta. Akibatnya banyak di antara mereka yang berupaya bekerja seadanya dengan harapan bisa mendapatkan sedikit uang untuk mengganjal perutnya.

Mereka memang bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan perutnya. Tetapi untuk kebutuhan tempat tinggal atau beristirahat, tidak bisa mereka penuhi. Tidak usah heran apabila mereka memanfaatkan segala yang lalu bisa dipakai sebagai tempat bernaung.

Bagian dari kolong jembatan layang merupakan salah satu tempat yang menjadi pilihan. Bahkan mereka mengapling-kapling kolong jembatan sebagai tempat tinggal. Akibatnya tidak usah heran apabila kolong jembatan kemudian menjadi perkampungan kumuh.

Kita pernah terkaget ketika kampung kolong jembatan itu terbakar. Bagian jalan layang ke arah Grogol bahkan sampai bolong dan tidak bisa dilalui karena ikut terbakar. PT Jasa Marga harus bekerja keras untuk memperbaiki jalan yang rusak karena terbakar itu.

Apakah lalu kita bisa membersihkan kolong-kolong jembatan sebagai tempat hunian? Ternyata tidak. Sekarang tiang-tiang penyangga jalan antara Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Tanjung Priok dalam kondisi terkelupas, karena sering terbakar oleh warga yang tinggal di bawah jembatan dan biasa membakar sampah.

Kita tidak tahu bagaimana kondisi tiang-tiang penyangga itu dan sejauh mana kekuatannya berkurang karena sebagian tiang sudah terkelupas. Namun kita tidak bisa membiarkan ada warga yang tidak mempunyai naungan dan kemudian menjadikan kolong jembatan sebagai tempat tinggal mereka.

Kita tahu bahwa ini bukan perkara mudah yang bisa diselesaikan. Namun kita harus menerima kenyataan bahwa masih ada warga kita yang hidup tidak layak dan mereka harus tinggal di tempat-tempat yang tidak sepantasnya.

Yang lebih parah adalah mereka yang tinggal di gorong-gorong sistem drainase kota. Ini melahirkan generasi masyarakat yang tinggal di bawah tanah, yang selama ini hanya kita tahu sebagai bumbu dari cerita-cerita film belaka.

Kita tidak boleh tutup mata terhadap kemiskinan yang ada di tengah masyarakat. Ternyata kemiskinan itu begitu parahnya sehingga ada sebagian warga kita yang harus tinggal di dalam gorong-gorong. Mereka bukan hanya satu-dua orang saja, tetapi ada banyak orang.

Fakta ini tidak harus lalu membuat kita defensif. Yang harus kita pikirkan adalah jangan sampai terbentuk kelompok masyarakat yang tinggal di bawah tanah. Kita mengkhawatirkan mereka lalu menjadi masyarakat yang berbeda.

Tugas petugas kota pasti akan menjadi lebih berat. Mereka harus selalu memeriksa gorong-gorong dalam sistem drainase apakah dijadikan tempat pemukiman atau tidak. Begitu ada satu yang tinggal di sana, sejak awal harus segera dilarang.

Bukan kita harus diskriminatif dan melarang orang tinggal di Jakarta. Namun kepada mereka yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak, sebaiknya dimintakan untuk kembali ke kampung halaman mereka.

Memang yang menjadi persoalan adalah apa yang akan mereka kerjakan di daerahnya. Inilah hal yang harus dipikirkan secara nasional. Pada akhirnya kita harus memeratakan pembangunan negara ini. Hal itu tidak boleh hanya sekadar pidato kosong, tetapi harus benar-benar dilaksanakan. Sebab, kalau pembangunan masih terus seperti sekarang, akan banyak orang yang memilih datang ke kota besar, meski harus tinggal di kolong jembatan atau di dalam gorong-gorong.

Mengerikan sekali fakta yang kita lihat ini. Tetapi itulah kenyataan yang terjadi dan kita tidak boleh berpura-pura tidak mengetahuinya. Kita harus berbuat untuk memecahkan masalah sosial yang sangat mendasar ini.

Sumber : metrotv.com
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sajian Berita Bermutu Anda - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger